Pengalaman Belajar Mengendarai Motor Sendiri (Part-3)


Pengalaman Ketiga yang sangat membekas

Kemampuan motorik yang sudah lama tidak digunakan pasti lambat laun akan menjadi hilang, mungkin hal ini yang saya rasakan semenjak kejadian kedua tersebut. Beberapa tahun setelahnya, Bapak membeli sebuah motor bekas Honda Supra X 125 untuk dipergunakan bersama-sama. Maklum saja tempat tinggal kami jauh dari jalan raya besar dan angkot hanya ada sampai jam 8 malam, paling lama sampai jam 9 jika penumpangnya sedang ramai.

Pertama kali saya disuruh Bapak untuk mengetest motor yang baru dibelinya itu, saya menyadari tenaga motor ini lebih besar daripada motor-motor sebelumnya yang saya kendarai. Yang paling saya ingat saat seminggu mencoba motor tersebut, saya berjanji hanya akan memacunya sampai maksimal gigi 3. Tapi janji tinggal janji bulan madu hanya mimpi...hahaha...tidak sampai 2 minggu saya sudah mencicipi kecepatan maksimum motor keluaran tahun 2006 itu.

Beberapa bulan setelahnya, di malam hari sepulang main dari rumah teman saya ingat Mama pesan minta dibelikan Bakmi Goreng. Malam sudah cukup larut waktu itu saat saya membeli makan malam di kedai yang 'open minded' karna hanya beratapkan langit. Ketika pesanan saya sudah jadi dan terbungkus rapi di dalam plastik, saya bergegas menyalakan motor dan langsung tancap gas di jalan sempit yang sangat gelap khas daerah terpencil.

Hanya berjarak kurang dari 5 menit setelah meninggalkan kedai tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras, tidak perlahan seperti gerimis tapi langsung deras sederas-derasnya. Lagi lagi kepanikan mengacaukan konsentrasi, pilihannya cuma dua : tancap gas lebih kencang atau berhenti untuk berteduh menunggu hujan reda. Anak muda tentu saja mengambil pilihan yang pertama, saya gas motor sekencang mungkin dengan harapan ini hanya hujan lokal nanti di depan juga sudah reda.

Keadaan yang gelap serta air hujan yang menghantam mata bertubi-tubi membuat pandangan saya menjadi sangat terganggu, benar saja karna beberapa saat kemudian saya tidak melihat gundukan tanah yang cukup tinggi dan menutup setengah jalan lebih. Kejadiannya sangat cepat, beli mie goreng, hujan deras, tancap gas, gundukan tanah dan GBRRRRAAKKK!!!

Tak sempat lagi mengerem atau berusaha menghindar motor pun menabrak gundukan tanah tersebut dengan kencangnya, saya terhempas kedepan seolah-olah terbang meninggalkan motor yang sudah ringsek bagian depannya. Berita buruk semakin bertambah karena 3 buah gigi atas saya patah, pergelangan tangan kanan terkilir, mulut mengeluarkan darah, hujan semakin deras, malam semakin gelap, bakmi goreng berhamburan di jalan dan ada seseorang lelaki sebaya saya datang menghampiri (dipikiran saya dia mungkin mengira saya pingsan dan ingin mengambil motor saya).

Dugaan saya hampir mendekati kenyataan ketika dia mengangkat motor saya yang terjatuh bukannya saya dan motor masih dalam kondisi mesin menyala, saya langsung berdiri seolah tidak terjadi apapun meminta motor saya untuk distandar saja, mengucapkan terima kasih dan saya bilang bisa meneruskan perjalanan saya sampai ke rumah. Sampai tulisan ini dibuat, bekas 3 buah gigi yang patah hari itu belum saya tambal sebagai pengingat agar saya lebih berhati-hati dalam berkendara.


No comments