Pengalaman Belajar Mengendarai Motor Sendiri (Part-2)


Pengalaman Kedua di masa remaja

Bertahun-tahun setelahnya saya tidak mempunyai keberanian secuilpun untuk mencoba belajar naik sepeda motor lagi, sampai pada saat saya bekerja dan mendapat fasilitas motor Honda Supra Fit S sebagai inventaris kantor.
Tepat dua minggu sudah saya bekerja di tempat itu bersama saudara sepupu, hampir tiap sore saya lihat dia berseliweran kesana sini dengan motor kepunyaan pemilik usaha ini. Gatal, sayapun mencoba meminjam kunci motor dengan maksud membeli makanan dan rokok yang tempatnya sedikit agak jauh dari kantor.

Begitu saya nyalakan mesinnya dan duduk diatas motor, kenangan-kenangan saat saya belajar pertama kali dulu tiba-tiba kembali muncul dan kali ini saya akhiri dengan tertawa ngakak mengingat kejadian memalukan tersebut. Pertama saya tarik gas di posisi gigi 1, motor terasa berubah menjadi banteng yang ingin menyeruduk kesana kemari dengan liarnya.

Tak berselang lama saya sudah bisa menjadi matador dengan menjinakkan 'banteng' tersebut dan dengan semangat masa remaja saya pacu motor di jalanan sepi sampai kecepatan 90 km/jam tanpa helm tanpa jaket tanpa peduli resikonya. Seminggu lamanya saya latihan tiap sore di sepanjang jalan yang sekarang baru saya ketahui menuju ke bandara Kualanamu (saat itu saya kira hanya sebagai jalan alternatif dan bandara Polonia masih beroperasi).

Malam itu malam minggu dan teman saya di kota Medan menghubungi saya untuk mengajak nongkrong sembari menceritakan kesibukan, setelah meminjam kunci dan helm pada sepupu saya dan berjanji besok pagi sudah kembali saya pun meluncur ke kota Medan. Perjalanan malam mengendarai motor kali ini menjadi pengalaman pertama saya berkendara saat hari sudah gelap sambil menatap lampu-lampu sorot kendaraan lain yang sangat menyilaukan mata.

Sampai di kota Medan, saya mengajak teman saya ini untuk berjalan-jalan mengendarai motor masing-masing (disini saya sedikit pamer kalau sekarang sudah bisa bawa motor sendiri) sampai larut malam, pulang dari Night Riding kami masih bercerita-cerita hingga hari menjelang subuh dan kamipun tertidur. Terbangun saat matahari sudah sangat terang, saya bergegas untuk siap-siap kembali ke tempat kerja.

Jalanan di Minggu pagi yang sepi membuat saya berkendara dengan kecepatan diatas rata-rata, hingga tiba di persimpangan lampu merah terakhir sebelum sampai di tempat kerja. Begitu lampu berganti menjadi hijau, saya menarik gas dalam-dalam bersamaan dengan motor lain yang langsung melaju kencang. Satu hal yang tidak saya perhitungkan, sekitar 200 meter dari lampu merah tersebut saya harus belok kiri di persimpangan berikutnya.

Di kecepatan yang lumayan tinggi saya bersiap membelokkan motor ke kiri, ternyata di depan ada satu truk yang juga akan belok ke kiri dengan kecepatan lambat. Panik dan salah perhitungan, saya mencoba mengurangi kecepatan dengan menginjak rem belakang sekuat tenaga tanpa dibarengi dengan rem depan.

Sepersekian detik kemudian saya menyadari itu adalah hal yang sia-sia, ban belakang motor selip dan menyebabkan motor tergelincir serta susah dikendalikan sementara jarak dengan truk semakin dekat. BRRAKK!!! saya ingat kepala bagian kanan saya menabrak bak truk terlebih dulu (untung helm pinjaman cukup kuat dan kokoh) dan saya jatuh kearah belakang sementara motor masuk ke kolong truk yang terus melaju sampai terseret beberapa puluh meter.

Saya jatuh dengan posisi terjengkang dan kepala menghadap keatas, tangan lecet, kaki lemas, shock dan ketakutan (motor rusak, badan sakit, dikerumuni orang banyak). Setelah kejadian ini butuh waktu yang cukup lama sebelum saya punya keberanian mengendarai motor lagi.

No comments